HomePeristiwaPenyusun Buku Pelajaran Vulgar yang Beredar di Banjarnegara Akui Kesalahan
buku-pelajaran-vulgar-di-banjarnegara

Penyusun Buku Pelajaran Vulgar yang Beredar di Banjarnegara Akui Kesalahan

Peristiwa 0 0 likes 249 views share

Guru Diminta Robek Halaman

BanjarnegaraNews.com, Banjarnegara -Tim penyusun buku yang memuat kata-kata vulgar untuk kelas 5 SD, mengakui adanya kesalahan penulisan. Tim penyusun yang merupakan Kelompok Kerja Guru (KKG) Penjasorkes ini, mengaku kurang menuliskan kata “paksa” dalam kalimat tanya yang ada di buku pendamping halaman 50.

Dalam buku pendamping Penjasorkes halaman 50 soal nomor 10 menyebutkan, “ajakan pada lawan jenis untuk melakukan kegiatan seksual”.

“Kami selaku penyusun buku pendamping Penjasorkes mengakui kesalahan. Karena pada kalimat tanya itu, kurang kata paksa. Mestinya jawabannya adalah pemerkosaan,” kata Ketua KKG Penjasorkes Banjarnegara, Tri Agus Prasetijo, Rabu (16/11).

Agar tidak menimbulkan makna lain, dia meminta kepada guru Penjasorkes untuk mengambil atau merobek halaman tersebut.

Nantinya, materi di halaman itu disampaikan secara lisan oleh guru masing-masing. “Ini menjadi bahan evaluasi kami agar lebih berhati-hati dalam menyususn buku pendamping,” ujarnya.

Namun demikian dia menegaskan, adanya materi soal reproduksi dalam buku Penjasorkes kelas SD ini sudah sesuai Permendikbud nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah.

Dalam aturan itu disebutkan, siswa harus mengenal cara menjaga kebersihan alat reproduksi, mengenal berbagai bentuk pelecehan seksual, dan mengenal cara menjaga diri dari pelecehan seksual.

“Kalau tidak ada kesalahan penulisan, maksud kami tim penyusun agar anak tahu apa saja bentuk pelecehan seksual. Karena justru pelecehan sering datang dari orang terdekat anak itu sendiri. Makanya perlu dibentengi untuk mencegahnya,” papar Agus.

Dia mengungkapkan, alasan membuat buku pendamping ini agar siswa diajarkan teori tentang Penjasorkes. Sebab berdasarkan pengalaman sebelumnya, siswa bingung saat mengikuti tes Penjasorkes lantaran buku yang digunakan tiap sekolah tidak sama.

“Jadi dengan adanya buku pendamping ini, setidaknya bisa jadi acuan dalam membuat soal ujian. Karena jika terpacu pada buku, setiap sekolah tidak memakai buku yang sama. Kasihan jika sekolah menggunakan buku A tetapi soal mengacu pada buku B,” jelas dia.

Sebelumnya, DPRD Banjarnegara meminta meminta Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dindikpora) Banjarnegara agar menarik buku tersebut dari sekolah-sekolah.Sebab buku tersebut dianggap terlalu vulgar untuk siswa kelas 5 SD. (uje/din)

Sumber : RadarBanyumas.com

Kabarkan ke Warga Banjarnegara!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *